Welcome to www.BukuWanita.net ... Ladies Online Book Store ... Shipping With Love From Tangerang Indonesia ^_^

»

#39 of 57 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Habis Galau Terbitlah Move On

Price Rp 63.000
Rp 56.700
Beli Aja

Judul      : Habis Galau Terbitlah Move On

Penulis   : J. Sumardianta

Ukuran   : 13 x 20,5 cm

Tebal      : 352 hal

"Guru bermental driver bukan passenger."

—Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., founder Rumah Perubahan

 

 “J. Sumardianta adalah guru anak pertama saya saat SMA. Dia jadi guru idola karena penampilan ‘Mbangun Desa’-nya.”

—Butet Kartaredjasa, aktor

 

“J. Sumardianta adalah ‘koki’ yang hebat. Setiap kali membaca karyanya, saya kerap disuguhi bacaan yang bahasa tulisnya tertata, bening, dan ‘nendang’.”

—Hernowo, penulis

 

 

 

 

 

Sahabat zaman digital yang susah ditinggal: internet, surel, socmed, laptop, kamera digital, wikipedia, e-banking, smartphone, Google, dan mal. Sahabat lama zaman kertas yang kini makin menjauh: kertas surat, permainan gobag-sodor, prangko, pak pos, TVRI, buku pintar, kertas buram, buku kenangan, dan buku primbon.

Orang zaman digital lebih sengsara bila fakir sinyal ketimbang fakir miskin. Mencerdaskan kehidupan sosial media, itulah kredo masyarakat zaman digital. Menyejahterakan pemikiran fesbuker-tweper dan ikut melaksanakan ketertiban dunia maya. Hermawan Kertajaya, begawan marketing, bilang, “Siapa pun Presiden RI 2014 harus memenangkan hati youth, women, dan Indonesian netizen.”

Seperti pendidikan yang disiapkan generasi nomaden buat anak-anak generasi agraris, dan seperti pendidikan yang disiapkan generasi agraris buat anak-anak generasi industri, sistem pendidikan dirancang generasi immigrant digital buat generasi native digital. Generasi native digital yang buta huruf pun tidak kesulitan mengoperasikan internet.

Revolusi TIK merupakan sumber dari segala perubahan, tanpa kecuali dunia pendidikan. TIK itu driver penggerak perubahan masyarakat. Ada tiga pergeseran yang di-drive TIK.

Pertama, perubahan dari eksklusif menjadi inklusif. Dinding penyekat sosial dirobohkan internet. Masyarakat makin inklusif dan transparan. Kalau profesi pendidik mau sustainable, tak longsor wibawa, harus makin melek internet.

Kedua, pergeseran vertikal ke horisontal. Model relasi kuasa guru-murid dan dosen-mahasiswa sudah tidak relevan lagi. Guru bukan lagi satu-satunya sumber knowledge dan wisdom. Media sosial (FB, Twitter, BBM, Path, Instagram, Youtube) mengambrukkan guru-guru tiran.Socmed mengubah lanskap sosial. Era nobody (bukan siapa-siapa) menjadi somebody (terpandang). Fatin Sidqia Lubis X-Factor tenar berkat Twitter. Era horizontalisasi socmed mengubah lanskap pendidikan. Guru sejajar dengan murid. Mereka tidak bisa lagi mengobjekkan murid.

Ketiga, sebagai konsekuensi inklusivitas dan horisontalisasi, terjadi pergeseran individual ke sosial. Guru dan murid menyatu dalam komunitas. Misalnya, komunitas Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan.

Sudah bukan zamannya guru buta internet dan tuli socmed. Watak socmed itu dialog (interaktif). Beda dengan perilaku guru yang cenderung monolog saat berinteraksi dengan murid di kelas. Para guru bakal mati kutu bila pada era socmed cenderung bersikap eksklusif, pola relasinya tetap vertikal dan individual.

Guru zaman digital harus inklusif, horisontal, dan sosial. Guru tidak bakal ditengok bila masih berparadigma analog. Guru era digital tidak mungkin mengajar dan mendidik dengan cara-cara zaman kertas. Zaman digital itu zaman VUCA: vitality (dinamis dan cepat berubah), uncertainty (sulit diprediksi), complexity (rumit penuh komplikasi), dan ambiguity (membingungkan penuh paradoks).